Rain Talk on March 2021

 



Malam itu air langit membasahi negeri pahlawanku. Aku masih mengingatnya dengan jelas momen itu. Seakan netraku merekam dengan baik momen di pukul 20.53 WIB. Tepatnya Senin, 1 Maret 2021 pukul 20.53 WIB. Ya, baru saja kalender melepaskan lembarannya entah kemana terkait tinta dengan rentetan angka-angka di Bulan Februari 2021 itu.


POV : Saat Ini

Malam ini, aku merasa dapat berbicara dengan cukup baik kepada suasana alam yang menyambutku malam itu. Hujan yang cukup deras di kotaku, seakan membuatku jatuh terlebih dalam lagi untuk berbicara lebih banyak kepada hujan. Ada yang ingin kusampaikan. Ah, sepertinya banyak yang ingin kusampaikan. Hanya saja ketika menulis tulisan ini aku jadi sedikit gugup dan buyar akan pertanyaan-pertanyaanku. Tepat pukul 21.00 WIB, petir benar-benar hadir dan tentu saja telingaku mendengar akan suara kehadirannya. Sepertinya, hujan telah mempersilahkan aku untuk berbicara kepadanya. Aku harap, langit dapat mendengar apa yang ingin kusampaikan malam ini. Ah, petir berbunyi kembali di pukul 21.03 WIB. Sepertinya langit tidak sabar mendegar keluh kesahku. Kumohon sabar, langit !. Aku masih ingin menuliskan momen ini dalam tulisanku. Oke, aku akan berbicara padamu, Hujan.

"Hujan, bagaimana bila aku menjadi awan?" tanyaku tanpa salam pembuka apapun. Yang kutahu, durasi hujan takkan ada yang tahu berapa lamanya. Aku takut suara hatiku tidak akan tersampaikan seluruhnya saat hujan mulai reda dan menghilang.

"Mengapa kau ingin menjadi awan bilamana kau bisa menjadi matahari yang besar dan menawan ?" timpal hujan.

"Kurasa dengan menjadi awan aku bisa menumpahkan segalanya ketika beban dipundakku telah banyak dan aku tak sanggup memikulnya kembali" jawabku dengan pelan.

"Hei, kau salah mengartikan semua itu !" jawab si hujan dengan tegasnya.

Aku terdiam sejenak dan memahami apa yang ada dihadapanku saat ini. Merasa bersalah dan bersalah. Merasa kurang dan kurang. Tetapi yang kuingat, aku tetap bersyukur apapun itu, tapi entah mengapa rasa itu muncul seakan hadir kembali tanpa kuundang, hingga terkadang menimbulkan kegelisahan dalam pikiranku.

"Iya, memang aku salah. Jujur, aku belum paham maksudmu, Hujan. Tetapi yang kau katakan memang benar, bahkan diriku saja beranggapan aku selalu salah. Payah kan?" sarkasku dengan senyum kecut.

Jujur tak mudah mengatakan hal itu dengan mulut konyolku. Selama ini hanya kupendam. Hanya otak dan hatiku yang bersaksi akan perasaan rumit ini. Kini bukan lagi rahasia. Semesta benar-benar telah mengetahui begitu lemahnya seorang aku. Semesta pun masih memandangku dengan langit gelapnya. Kau tahu apa yang kurasakan?. Saat kukatakan kata-kata itu, emosiku benar-benar menguasaiku dalam diam. Ya, perasaan yang mencuat seakan sesak dalam dada. Tidak ada tangisan sekalipun, namun begitu sesak. Bukan alay, bukan berlebihan, ini murni kurasakan detik ini. Detik dimana pukul 9 lebih menjadi saksi aku mencurahkan semuanya dalam tulisan ini.

"Hei, kau tidak selemah apa yang kau kira. Kau tidak seburuk yang kau bayangkan" jawab hujan dengan lembutnya.

Dengan refleks, tengkukku mengahadap ke atas. Netraku berusaha menatap langit dengan penuh imajinasi tinggiku. Bayangkan saja, saat ini pun, saat aku berbicara dengan hujan, keadaanku masih di dalam ruangan dengan daya teduh yang baik. Kurasa, netraku telah menatap langit dan menuntut dengan tegas untuk meminta kejelasan terkait semua tanda tanya yang ia torehkan dengan pernyataan si hujan yang belum bisa kuserap dengan otakku ini.

21.24 WIB, hujan sempat reda sejenak. Sepertinya ia mengambil ancang-ancang penuh untuk menjelaskan semua hal itu kepadaku. Masih terdengar pula di telingaku, alunan suara air langit yang berpadu dengan gemuruh meski suaranya tidak sejelas tadi.

"Baik akan kujelaskan" katanya.
Mataku terpejam sejenak, pertanda aku menganggukkan si hujan yang akan menjelaskan panjang lebar. Ah, semoga tidak membosankan.


POV : Hujan

Aku paham apa yang ada di pikiran gadis itu. Semua terbaca dengan jelas dari guratan wajah yang ia buat saat melontarkan segala keresahannya. Baiklah, aku harus menjelaskannya dengan perlahan dan hati-hati, sebab takut menyakiti perasaannya. Bagaimana tidak?. Tadi saja, gadis itu menjawab perkataanku dengan sarkas seakan dirinya tersulut emosi yang belum bisa ia kendalikan dengan baik. Setidaknya, aku hanya ingin meluruskan opini yang ia buat seketika perihal dirinya yang bermimpi ingin menjadi awan. Awan tidak serta merta mengeluarkan beban yang ia pikul kepaku sebagai hujan. Awan tidaklah seceroboh itu. Awan tentu tidak memiliki emosi sebagaimana makhluk di bumi. Awan paham betul kapan ia menumpahkan segala bebannya kepadaku hingga kuserahkan seluruhnya dan membasahi bumi. Meski awan tidak memiliki emosi, yang kutahu dia memiliki perasaan yang teduh. Perasaan? Sepertinya manusia akan memberikan konotasi perasaan akan hal tersebut. Toh, ketika awan menumpahkan beban yang ia pikul, ia juga berbagi kebahagiaan dengan segala sesuatu yang ada di bumi. Rezeki tak terkira. Setidaknya awan ingin berbagi kebaikan. Bagaimana dengan banjir dan bencana?. Aku tidak bisa menjawab itu. Tapi bukankah itu pertanyaan yang pantas dijawab oleh manusia-manusia bumi dengan level IQ yang sempurna dibandingkan kami-kami sebagai penghuni yang menghiasi langit.

Namun berbeda dengan jalan pikiran gadis itu. Gadis itu sepertinya ingin menumpahkan segala hal entah kebaikan, keterpurukan, atau hal lain kepada yang lain. Setidaknya ia tidak memikul terlalu banyak. Aku paham, gadis itu seperti ingin menyerah, namun juga ingin tetap berjuang terhadap segala hal yang ada di dekapannya. Aku tidak menyalahkan gadis itu yang ingin menjadi awan. Gadis itu tidak salah. Gadis itu manusia. Nafsu akan keinginan apapun itu layaknya telah menjadi hal mutlak bagi tiap manusia. Kujelaskan dengan pelan dan lembut kepada gadis itu.




POV : Aku

"Jangan merasa bersalah terus. Dunia itu ladang untuk belajar dan belajar. Dunia itu ladang beramal untuk menyambut negeri akhirat. Jangan merasa kaulah orang yang paling terpuruk. Coba senyumlah. Biasanya, kekhawatiran yang ada akan gugur satu persatu dengan tersenyum. Jangan malu bahwa semesta telah mengetahui rahasia yang kau anggap kelemahanmu. Kami justru bangga padamu yang mampu mengemban semua beban sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan. Ya, itulah manusia. Apa kau percaya bila kami pun bangga padamu?"

Aku masih terkesima akan pernyataan hujan dan tiba-tiba melongo akan lontaran pertanyaan si hujan.

"Tengoklah langit malam segera saat aku menghilang. Meski langit yang kau lihat masih gelap. Aku yakin kau dapat melihat pelangi setelah itu dengan mata telanjangmu saat ini" 

Aku terkesima akan pernyataan hujan barusan. Hujan hampir reda. Semua tentang malam ini membius diriku sepenuhnya. 

Secercah senyumku mulai menyungging dengan natural. Netraku dapat melihat semuanya. Pelangi menyapaku dengan ramah. Dia begitu cantik. Tak sengaja, netraku memandang langit sisi timur. Ternyata, matahari belum tertidur, bahkan tidak pernah?. Ah betul, negeri tetangga lain pasti sedang disapa matahari di saat aku bersua dengan rembulan. Hatiku sedikit terenyuh, saat melihat matahari dan rembulan yang bercengkrama dengan akrab. Mereka sadar, bahwa mata telanjangku bisa melihat semua itu. Tak kalah ramahnya dengan pelangi, mereka segera menatapku dengan memperlihatkan sinarnya yang sangat indah sebagai simbol sapaan.

Pelangi, Matahari, Rembulan, Langit Malam,
dan paling khusus teruntuk Hujan terima kasih kusampaikan akan semua cerita di malam ini

21.56 WIB 
Hujan telah reda di negeriku. Masih kuharapkan ada momen lain di antara kita suatu saat nanti, Hujan !


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beranjak 2021

Who Am I ? | Connectedness

Untaian Kata Penghujung Kedua