Mentari Bersembunyi Sejenak
Renungan Bersama
26 Desember 2019. Mentari di Bumi Nusantaraku sempat bersembunyi sejenak entah kemana. Ini bukan pertama kalinya di negeriku. Bisa dibilang untuk kesekian kalinya. Tapi, tetap saja hal ini merupakan sesuatu yang langka. Kata orang Jawa, hilangnya mentari atau rembulan sejenak dikaitkan dengan berbagai cerita mistis yang telah digaungkan sejak zaman nenek moyang mereka dahulu. Kata para ilmuwan, matahari tidak hilang. Inilah fenomena yang disebut gerhana matahari, ketika matahari, bulan, dan bumi pada satu garis lurus. Namun, bagaimana kata Sang Pencipta terhadap fenomena ciptaanNya?. Ternyata, kali ini, Allah ingin hambaNya mendekatkan padaNya, sebagaimana firmanNya dalam surah Ali-Imran.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ، وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا، سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali Imran: 191)
Foto diambil pada 11 Desember 2019 di Masjid UNAIR Kampus C
Sabda alam telah tergoreskan. Firman Allah telah jelas. Bahsawannya, datangnya gerhana itu tak lain sebagai ibrah atau pembelajaran bagi hamba-hambaNya. Pertama, Allah, Sang Pencipta Alam Semesta ingin menunjukkan kuasaNya yang tak terbatas bagi hambaNya. Allah berfirman.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?...”
(Q.S al-Hajj: 18)
Begitu kuasaNya Allah menciptakan alam semesta dunia ini. Allah menunjukkan seluruh sistem alam semesta dunia ini, seperti bumi, bulan, dan planet-planet lainnya tak hanya berotasi dan berevolusi saja. Mereka semua itu juga bersujud kepada RabbNya. Namun tak dapat dipungkiri, bahwasannya manusia terlalu ego dan sombong.
Kedua, Allah ingin melihat manakah hamba yang taat dengan mengikuti sunnah Rasul, dan manakah hamba yang hanya mencari kesenangan dan kepuasan hatinya. Jika pada hari ini kita melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah, berarti kita adalah pengikut Nabi yang sebenarnya. Namun jika dalam peristiwa ini kita hanya sibuk mencari sudut yang paling ideal untuk bisa melihat gerhana matahari, berarti kita hanya ingin mencari kepuasan diri. Rasulullah SAW bersabda.
وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
"Barang siapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.”
(HR. Tirmidzi)
Ketiga, dengan adanya hal tersebut dapat menambah kecintaan kita kepada Allah. Sebagaimana pada hari ini kita diperlihatkan kuasa Allah, sehingga kecintaan itu dapat timbul berdasarkan kekaguman kita terhadap kuasaNya. Keempat, hal itu juga untuk menguji manusia, apakah diantara kita masih ada yang menimbun sisa-sisa ke-jahiliyyah-an dalam hatinya, sehingga mempercayai hal-hal yang mistis dan mengaitkannya dengan gerhana matahari. Jauh-jauh hari Rasulullah sudah mengingatkan kepada kita, bahwa gerhana matahari tidak terjadi karena kematian atau kelahiran orang yang agung. Gerhana adalah murni tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Maka tidak sepantasnya, sebuah peristiwa yang Allah jadikan sebagai bukti keagungan-Nya, justru kita kaitkan dengan kekuatan-kekuatan mistik yang tidak jelas dasar logika dan penalarannya.
Dengan demikian, semoga dengan adanya gerhana ini dapat menambah kecintaan kita kepada Allah, sekaligus menambah kualitas diri kita untuk lebih dekat dengan Allah. Tak hanya itu saja, momentum ini juga sekiranya menjadi kesadaran untuk setiap insan, bahwasannya manusia hanyalah makhluk Allah yang penuh kerendahan. Tak elok rasanya bahwa diri ini begitu angkuh dengan hal-hal yang telah kita capai atau kita miliki. Nyatanya, kita hanyalah butiran-butiran debu yang kecil jika dilihat dari langit-langitNya. Dibandingkan dengan bumi, bulan, dan planet-planet lainnya pun kita tak sebanding. Semoga ke depannya dengan ukuran diri yang kecil ini semakin menambah kerendahan hati kita di depan Allah dan hamba-hambaNya, serta menambah kualitas ibadah juga. Be better together! :)
Wallahu a'lam bishshawab. Wassalam.
"Bumi, Bulan, dan Matahari tak henti-hentinya beribadah kepada Sang Pencipta dengan caranya sendiri. Kita adalah manusia yang menapak di bumi. Memang begitu kecil. Tapi, memang begitu sombong dan ego juga diri kita. Perihal Manusia lalai dengan ibadahnya."
Sumber : Khutbah Sholat Kusuf Syams di Masjid As-Salam Surabaya oleh Ust. EJZ (26/12/19), dengan gaya penyajian tulisan oleh penulis blog. Qotd oleh penulis blog.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?...”
(Q.S al-Hajj: 18)
Begitu kuasaNya Allah menciptakan alam semesta dunia ini. Allah menunjukkan seluruh sistem alam semesta dunia ini, seperti bumi, bulan, dan planet-planet lainnya tak hanya berotasi dan berevolusi saja. Mereka semua itu juga bersujud kepada RabbNya. Namun tak dapat dipungkiri, bahwasannya manusia terlalu ego dan sombong.
Kedua, Allah ingin melihat manakah hamba yang taat dengan mengikuti sunnah Rasul, dan manakah hamba yang hanya mencari kesenangan dan kepuasan hatinya. Jika pada hari ini kita melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah, berarti kita adalah pengikut Nabi yang sebenarnya. Namun jika dalam peristiwa ini kita hanya sibuk mencari sudut yang paling ideal untuk bisa melihat gerhana matahari, berarti kita hanya ingin mencari kepuasan diri. Rasulullah SAW bersabda.
وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
"Barang siapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.”
(HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, semoga dengan adanya gerhana ini dapat menambah kecintaan kita kepada Allah, sekaligus menambah kualitas diri kita untuk lebih dekat dengan Allah. Tak hanya itu saja, momentum ini juga sekiranya menjadi kesadaran untuk setiap insan, bahwasannya manusia hanyalah makhluk Allah yang penuh kerendahan. Tak elok rasanya bahwa diri ini begitu angkuh dengan hal-hal yang telah kita capai atau kita miliki. Nyatanya, kita hanyalah butiran-butiran debu yang kecil jika dilihat dari langit-langitNya. Dibandingkan dengan bumi, bulan, dan planet-planet lainnya pun kita tak sebanding. Semoga ke depannya dengan ukuran diri yang kecil ini semakin menambah kerendahan hati kita di depan Allah dan hamba-hambaNya, serta menambah kualitas ibadah juga. Be better together! :)
Wallahu a'lam bishshawab. Wassalam.

Komentar
Posting Komentar