Tunda






     Salam dariku sebagai sesama pengembara kehidupan ini. Masih banyak alur kehidupan yang harus kita lewati. Kita butuh suatu hal dasar untuk mencapai klimaks, yang akan mewarnai resolusi kehidupan kita. Sebuah pilihan dasar dalam hidup yang harus kita tanamkan dalam hati, yakni tunda, tetap, atau lanjut.

"๐™ถ๐šŽ๐š•๐š˜๐š–๐š‹๐šŠ๐š—๐š ๐šœa๐š’๐š—๐šž๐šœ ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŠ๐š” ๐šœ๐šŽ๐š๐šŠ๐šœ๐šŽ, ๐š๐š’๐š๐šž๐š—๐š“๐šž๐š”๐š”๐šŠ๐š— ๐š๐šŽ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š๐šŽ๐š•๐šŠ๐šข ๐šŠ๐š๐šŠ๐šž ๐š๐šž๐š—๐š๐šŠ ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š‹๐šŽ๐š‹๐šŽ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ ๐š™๐š‘๐š’, ๐š”๐šŽ๐šŒ๐šž๐šŠ๐š•๐š’ ๐š๐šž๐šŠ ๐š™๐š‘๐š’"

     Dari pernyataan tersebut, saya menganalogikan bahwa segala sesuatu yang tak sesuai dengan fasenya, dalam artian tak sesuai dengan aturan dan tempatnya, berawal dari sebuah niat yang lemah, yakni menunda apa yang harus dilakukan.

     Maka dari itu, tekad yang kurang teguh dipastikan goyah oleh nafsu. Nafsu akan keinginan menunda suatu hal, hingga perencanaan di awal menjadi tak berjalan semestinya, layaknya ban yang keluar dari porosnya.

     Dengan demikian, kita harus menentukan dari tiga pilihan tersebut, bahwa bagaimana kita akan melukiskan alur kehidupan kita kelak. Akankah kita lanjut dengan berusaha lebih giat, untuk melanjutkan perjuangan yang telah kita lakukan, demi hasil yang lebih cemerlang. Akankah kita melakukan hal-hal yang tetap seperti sebelumnya, layaknya tak ingin ada revolusi dalam alur kehidupan. Ataukah kita akan berpasrah diri dan enggan untuk berevolusi lebih keras. Menikmati kehidupan yang ada saat ini, saya beranggapan bahwa selalu ada kebahagiaan. Ya, kebahagiaan yang fana berawal dari suatu kecerobohan terbesar manusia, yakni ๐ญ๐ฎ๐ง๐๐š.

     Sementara itu, segala sesuatu yang sefase harus dilihat dari dua sisi, bukan hanya sebelah mata saja. Misalnya, sebuah kata "tunda" mungkin akan dinilai oleh beberapa orang dengan kesan yang negatif. Namun, ingatlah bahwa anion tak selamanya negatif. Ia bisa saja menjadi kation dengan melepaskan elektronnya.

     Kapankah tunda menjadi sesuatu yang positif?. Jawabannya ialah ketika kita meniatkan segala sesuatu untuk menunda dalam hal-hal keburukan, dimana kita akan bertekad untuk menunda maksiat, kemalasan, dan sebagainya.

     Lalu, kapankah tunda akan bernilai negatif?. Yakni ketika kita menunda-nunda segala perkejaan yang harus kita lakukan untuk kebaikan nantinya. Semisal kita menunda diri untuk ibadah dan belajar, dalam artian mementingkan nafsu terlebih dahulu daripada prioritas yang seharusnya. Naudzubillah.

     Dengan demikian, mari kita buat sentuhan berbeda untuk suatu hal yang telah dinilai negatif oleh mayoritas masyarakat, agar menjadi sebuah pembelajaran berharga dalam hidup. Sesuatu yang harus dilihat dari dua sudut pandang agar sefase nantinya. Tunda.


Nama : Wahda Humairah Azzahra
NRP : 01211940000046
#SiapBernalar #PenalaranSantuy #KabinetOASEรŸ #UKMPenalaranITS


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi persyaratan anggota UKM Penalaran ITS 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beranjak 2021

Who Am I ? | Connectedness

Untaian Kata Penghujung Kedua